Financial Literacy seharusnya adalah pelajaran paling penting sejak dini!
Dear Kamu,
Bulan Mei selalu jadi bulan terberat di hidup kamu. Tanggal 08 Mei 2013 adalah tahun hari dimana Mamah ninggalin kamu dan keluarga selamanya. Kalau masih ada beliau, kamu pasti gak akan kepikiran soal kesulitan finansial kayak sekarang.
Tapi memang seperti itu jalan Tuhan, beginilah proses pendewasaan dirimu, selalu jalani dengan semangat!
Mamah, seorang dosen di bidang management dan ekonomi, tapi sayangnya dulu beliau gak menurutkan ilmu kesadaran finasial. Padahal seharusnya ilmu ini ada di pelajaran dari sekolah dasar, jadi di SMP dan SMA semua sudah bisa belajar cara investasi reksadana atau beli saham, kalau sudah dipelajasi dari kecil yakin deh pas udah besar masyarakat indonesia tidak ada yang susah finansial.
Financial literacy atau Literasi keuangan adalah kepemilikan seperangkat keterampilan dan pengetahuan yang memungkinkan seseorang untuk membuat keputusan yang terinformasi dan efektif dengan semua sumber daya keuangan mereka.
Perkara mau bebas hutang 2020, bapak sakit dan COVID-19 si pandemi global baru membuat kamu mau terbuka pikirannya soal ilmu satu itu.
Kesadaran tentang pentingnya pemahaman finansial baru muncul setelah 1 dekade kamu menjadi pekerja!
Gila! Harus tunggu sampai 1 dekade a.k.a 10 tahun! Dalam rentang masa karir kamu hasil dari penghasilan kamu ya cuma jadi alat-alat teknologi yang ujung-ujungnya jadi bangkai elektronik aja, tas atau dompet kulit, perawatan dan kosmetik branded, jalan-jalan, paling maksimal yang awet dan bisa dijadiin dana darurat juga ya paling logam mulia!
Sebenarnya belanja yang disebutin itu tidak salah kok, hanya saja harus ada alokasinya. Ini yang kamu GAGAL PAHAM! Jadi kalau dulu sistem kamu seperti ini:
Lihat di tabungan ada uang >> lihat harga barang atau keperluan travel >> kalau cukup langsung beli! >> Habis itu berdarah-darah untuk kembali memenuhi kebutuhan utama.
Woy, Mekanismenya tidak seperti itu! Ternyata hal utama yang harus dilakukan terlebih dahulu bisa dilihat di youtube mbak Prita Ghozie, dia saranin untuk selalu anggarkan penghasilan kita dengan tujuh alokasi,:
- Amal/sedekah
- Darurat & proteksi
- Premi asuransi
- Present Consumption (kebutuhan utama bulanan)
- Future Spending
- Investasi Masa Depan
- LifeStyle/Playing
Buat persentasi di masing-masing alokasi dengan total akumulasi 100%. Misalnya alokasi jalan-jalan kamu di lifestyle/playing 5% setiap perbulannya sebesar Rp. 500.000,- tapi ternyata kebutuhan jalan-jalan kamu Rp. 3.000.000,- ya berarti kamu masih perlu waktu 6 bulan lagi untuk kumpulin dana jalan-jalan.
Boleh tidak pinjam dulu dari alokasi lain? Bisa aja sih tapi apa kamu yakin bisa balikin dana sesuai alokasinya? Kamu harus ingat ini seumur hidup kamu: jangan pernah korbanin kebutuhan primer kamu sama kebutuhan sekunder apa lagi tersier. Nikmatin aja nunggu sampai dananya terkumpul.
Hidup tanpa rencana memang menyenangkan, mau jalan-jalan tinggal gesek, suka barang apa pun tinggal beli. Siapa sangka di 2020 semua orang bisa kena badai ketidak pastian seperti ini. Kalau tidak ada dana darurat kamu cuma bisa gigit jari.
Hal yang kamu lakukan selama Black periode adalah mengurangi kebutuhan utama (lebih memilih hal yang benar-benar perlu saja), alokasi lifestyle dan invetasi masa depan dijadikan satu dulu untuk kumpulin dana darurat dan proteksi.
Sekarang cara bertahan hidup ya harus mulai hidup sederhana dulu lagi, Apalagi kalau kamu belum bisa mulai buka usaha. Belajar dulu simpan dana dengan Investasi Reksadana/saham/deposito/obligasi supaya uangnya bisa berekembang meskipun sedikit-sedikit.
Comments
Post a Comment